Siapa yang tak kenal Bob Sadino? Ia enterpreneur sejati. Gayanya nyentrik, pola pikirnya unik dan cenderung terbalik. Keluar dari pakem teori dan buku teks ekonomi. Tapi, bisnisnya sukses.
PEBISNIS yang biasa baca buku marketing, manajemen, dan makan sekolahan, dibikin bingung Bob Sadino, pengusaha yang terkenal dengan Kem Chicks-nya ini. ’’Hidup saya tanpa rencana dan tanpa target. Buku-buku di sekolah sudah meracuni pikiran Anda. Padahal, informasi itu sudah basi dan jadi sampah. Sekolah menghasilkan orang untuk bekerja, tapi bukan memberi peluang kerja bagi orang lain,” katanya. Nah, bingung kan?
Lelaki yang sudah berbisnis selama 36 tahun dan biasa disapa Om Bob ini bercerita, ia berani keluar dari kemapanan bekerja di Jakarta Lyod, jadi pengangguran, jadi kuli bangunan dan supir taksi. Ia lalu berkirim surat ke teman-temannya di Belanda, agar dikirimi ayam petelur. Saat itu, orang tidak biasa mengkonsumsi telur. Jadilah ia peternak ayam broiler dan menjual telur ayam. ’’Sayalah orang pertama yang mengenalkan telur kepada bangsa ini,” katanya.
Namun, jalan hidup Bob tidak semudah membalik telapak tangan. Ia menjual telur ke tetangga. Telurnya tidak laku karena warga Kemang tak biasa makan telur yang besar-besar itu, tapi telur ayam kampung. Beruntung, beberapa bule menyukainya. Permintaan pun bertambah. Tidak hanya telur, merica, garam dan belakangan berkembang ke bisnis daging olahan seperti sosis.
Bob Sadino yang pertama kali mengenalkan menanam sayuran tanpa tanah alias hidroponik. Padahal, saat itu tidak pasarnya. Tapi, kegigihan seorang Bob Sadino, ia menciptakan pasarnya. Beberapa tahun kemudian, ia malah mengekspor terung ke Jepang. Bob mengaku, ia tidak pernah berencana mau jadi apa. ’’Rencananya hanya buat orang pinter, saya bersyukur saya goblok. Kalau saya pintar, saya akan seperti Anda,” katanya, disambut tawa peserta seminar di Hotel Godway, kebetulan pada saat itu lagi seminar.
Kalau pengusaha atau orang dagang cari untung, Bob Sadino mengaku mencari rugi. Lantaran goblok, ia tidak hitung-hitungan dan membebani dirinya macam-macam. ’’Biasanya orang dagang cari untung dan rugi peluangnya sama saja. Jadi, kalau cari rugi, terus kalau untung waduh, bahagia banget,” ujarnya.
’’Silakan cari kegagalan, cari kendala Anda. Saya mengalami segunung kegagalan, kendala dan keringat dingin dan air mata darah. Tapi, saya belajar dari kegagalan dan mencari jalan keluarnya. Kegagalan adalah anugrah. Lalu, apa di balik kegagalan. Sukses adalah titik kecil di atas segunung kegagalan,” papar Bob yang membuat peserta seminar terpana.
Bob Sadino bahagia dengan apa yang dilakukannya. Ia berani mengambil risiko dan menciptakan pasar. ’’Saya mengambil risiko sebesar-besarnya, sebab orang yang mengambil risiko kecil, hasilnya juga kecil. Kalau ambil resiko gede maka maka hasilnya juga gede. Kata purdi E Chandra, rezeki itu berasal dari kata resiko, kalau resikonya kecil maka rezekinya juga kecil tapi kalau resikonya gede maka gede pulalah rezekinya.
Meski awalnya sulit dipahami, peserta seminar yang bingung dan tidak terima dikatai goblok, lama-lama bisa mencerna jalan pikiran nyeleneh Bob Sadino. Sebagai pengusaha sukses, ia sudah sampai pada tahap financial independent, sehingga ia bebas mau beli apa saja dan mau pergi ke mana saja. ’’Duitnya sih, pas-pasan. Kalau mau beli Jaguar, pas duitnya ada,” katanya, terkekeh.
Karena merasa dirinya goblok, Bob tidak berpikir secara runtun, tapi mengalir begitu saja. Orang goblok juga akan lebih percaya pada orang lain yang lebih pintar dari dirinya. Kalau gagal, orang goblok tidak merasa gagal, tapi sedang belajar jadi lebih pintar. Akhirnya, orang goblok bisa jadi bosnya orang pintar-pintar. Kini, Bob memiliki 1.600 karyawan yang dia sebut anak-anaknya.
Sementara, orang pintar menghitung sesuatu nyelimet dan usahanya nggak jalan-jalan, karena dibebani rencana yang belum tentu berhasil. Orang pintar juga tidak percaya orang lain sehingga semua dikerjakannya sendiri. Ia mencontohkan ketika salah seorang karyawannya menurunkan harga kangkung di supermarketnya dari semula harganya Rp6.000 menjadi Rp400 saja. Eh, ternyata malah tidak laku.
Selidik punya selidik, ternyata langganannya protes, kok harga kangkungnya murah, padahal biasanya mahal. ’’Akhirnya, harga kangkung itu saya naikkan lagi. Pelanggan saya bilang, kangkung yang saya jual rasanya lain. Mungkin karena mahal, sehingga setiap sendok kangkung yang masuk ke mulutnya diam-diam dihitungnya, Rp6.000, jadi dia nikmati. Lha, kalau begini, siapa sebenarnya yang goblok?” papar Bob terbahak-bahak.
Namun, bagi pembeli ada nilai psikologis yang membuat pembeli merasa berbeda jika mengkonsumsi kangkung mahal daripada kangkung murah. Ini bagian dari trik marketing. Ia pun berbagi tips, bahwa untuk menjadi seorang marketing yang baik, maka seseorang harus menjual dirinya sendiri (sale for your self), sebelum menjual produknya. Sebuah filosofi, bahwa bagaimana seseorang menjadi marketing yang baik, kalau ia sendiri tidak dikenal orang.
Di balik kekonyolannya, Bob Sadino memberikan beberapa resep menjadi pengusaha. Antara lain, berpikir bebas dan tanpa beban. Memiliki tekad dan keinginan yang kuat menjadi pengusaha, sebab kemauan adalah ibarat bensin dan motor, keberanian mengambil peluang, tahan banting dan bersyukur bisa berbuat untuk orang lain.
Bagi pengusaha Batam, Bob Sadino berpesan, jangan takut dan jangan terlalu berharap. Sebab, makin tinggi harapan, makin tinggi tingkat kekecewaan. ’’Lepaskan belenggu dalam pikiran Anda sendiri. Ada berjuta peluang di sekeliling Anda,” katanya.
Dalam berbisnis, juga jangan terlalu memikirkan sukses. Kalau terlalu banyak memikirkan sukses, kata Om Bob, bekerja pasti dalam tekanan, tidak rileks sehingga hasil kerja tidak akan bagus. ’’Santai saja, hilangkan semua beban, ingat sandaran itu tadi, kemauan, komitmen, keberanian mengambil peluang, pantang menyerah dan selalu belajar pada yang lebih pintar serta selalu bersyukur,” ujar Om Bob, mengingatkan.
Satu hal yang menarik, orang-orang yang ia gunakan dalam membantu usahanya, bukanlah mereka yang berasal dari kalangan berpendidikan tinggi, melainkan dari anak jalanan. Berawal dari satu anak jalanan, bertambah dua, tiga hingga saat ini mencapai 1.500 orang anak. Bob juga mengaku bukan orang yang berpendidikan tinggi. Ia hanya tamatan SMA. Ia tak pernah sekolah tinggi. Baginya, di sekolah orang membaca buku, buku sifatnya informasi yang telah terjadi yang tak ubahnya roti busuk alias sampah. Jadi, orang yang sekolah tinggi-tinggi, isinya hanya sampah. Terkecuali sampah itu diolah menjadi pupuk yang subur.
Bob Sadino juga tidak setuju dengan istilah Usaha Kecil Menengah (UKM) yang digembar-gemborkan pemerintah. Apa pasal? ’’Mestinya bukan UKM, tapi UBB atau Usaha Bakal Besar sehingga kita tetap optimis dan berusaha membesarkan bisnis kita,” katanya.
Tak terasa, dua jam berlalu bersama Bob Sadino. Namun, pertanyaan menggelitik soal penampilannya yang senang bercelana pendek, terlontar juga dari peserta seminar. Apa jawaban Bob? ’’Tidak penting celana pendeknya, yang penting, apa di balik celana pendek itu,” ujar Om Bob yang disambut gelak tawa.
Di balik sikap nyentrik dan nyeleneh Bob Sadino, ia berhasil membangun bisnisnya selama puluhan tahun. Dan, ia bisa duduk santai dengan beberapa presiden sambil ngobrol ngalor ngidul. Yang jelas, peserta seminar yang umumnya pelaku bisnis merasa mendapat pengalaman dan pencerahan yang luar biasa.
Sayangnya, nyaris tidak ada pengusaha kelas kakap yang tertarik bincang bisnis Bob Sadino yang disponsori Telkomsel itu. Mungkin khawatir dicap goblok. Jadi, mau pintar atau goblok ala Bob Sadino? Terserah Anda.
Rabu, 28 Mei 2008
Jumat, 09 Mei 2008
PELUANG USAHA FRESH TELA
Wah kalau aku suka yang rasa keju, aku suka bbq, aku suka jagung bakar, aku suka balado, pedes-pedes gimna gitu...kalau aku suka bisnisnya..hehehe
Begitulah komentar sebagian masyarakat yang membeli produk Fresh Tela. Fresh Tela merupakan makanan yang terbuat dari tela (dalam bahasa jawa) atau singkong dalam bahasa indonesia. Siapa sih yang gak kenal singkong, pasti semua orang kenal akan singkong...memakannya hhhhmmmmm....nikmat sekali apalagi di hidangkan pada saat masih hangat sambil nonton tv.
Untuk bergabung dengan Fresh Tela, ada beberapa alternatif pilihan investasi yaitu :
1. Mitra Standar yaitu mitra yang bergabung dengan investasi sebesar Rp.4 jt, fasilitas yang didapat yaitu outlet dan perlengkapannya, modal awal untuk usaha (50 bungkus tela, 50 packing, 10 rasa bumbu, 4 liter minyak goreng), franchise fee tiga ahun, kaos dua buah.
2. Mitra Exklusive yaitu mitra yang bergabung dengan investasi sebesar Rp.5.5 jt fasilitas yang didapat yaitu garansi uang kembali, bonus mitra get mitra, outlet dan perlengkapannya, modal awal untuk usaha (50 bungkus tela, 50 packing, 10 rasa bumbu, 4 liter minyak goreng), franchise fee lima tahun, kaos 2 buah.
3. Agent/Master franchise yaitu perwakilan Fresh Tela di wuatu wilayah dan berhak untuk mengembangkan di daerahnya masing-masing. Untuk menjadi agent investasinya sebesar Rp.15 jt. Fasilitas yang di berikan yaitu pelatihan manajemen produksi dan operasional, bonus aktif dan pasif, flyer 100 buah, kaos 2 buah, bumbu 10 rasa, franchise fee selama tiga tahun.
Keuntungan menjadi agent :
a. Garansi modal kembali
b. Keutungan besar
c. Mendapat pelatihan mgt produksi dan operasional
d. Berhak menjual oulet ke mitra
Keuntungan bergabung :
a. Return on investmen (ROI)/balik moal cepat
b. Modal tidak terlalu besar
c. Kemungkinan berhasil lebih besar
d. Support dari pusat ok
Untuk informasi lebih jelas silahka hubungi:
PIC : ABU AYYASY : 0815.3750.1719
YAHYA : 0812.769.4582
Begitulah komentar sebagian masyarakat yang membeli produk Fresh Tela. Fresh Tela merupakan makanan yang terbuat dari tela (dalam bahasa jawa) atau singkong dalam bahasa indonesia. Siapa sih yang gak kenal singkong, pasti semua orang kenal akan singkong...memakannya hhhhmmmmm....nikmat sekali apalagi di hidangkan pada saat masih hangat sambil nonton tv.
Untuk bergabung dengan Fresh Tela, ada beberapa alternatif pilihan investasi yaitu :
1. Mitra Standar yaitu mitra yang bergabung dengan investasi sebesar Rp.4 jt, fasilitas yang didapat yaitu outlet dan perlengkapannya, modal awal untuk usaha (50 bungkus tela, 50 packing, 10 rasa bumbu, 4 liter minyak goreng), franchise fee tiga ahun, kaos dua buah.
2. Mitra Exklusive yaitu mitra yang bergabung dengan investasi sebesar Rp.5.5 jt fasilitas yang didapat yaitu garansi uang kembali, bonus mitra get mitra, outlet dan perlengkapannya, modal awal untuk usaha (50 bungkus tela, 50 packing, 10 rasa bumbu, 4 liter minyak goreng), franchise fee lima tahun, kaos 2 buah.
3. Agent/Master franchise yaitu perwakilan Fresh Tela di wuatu wilayah dan berhak untuk mengembangkan di daerahnya masing-masing. Untuk menjadi agent investasinya sebesar Rp.15 jt. Fasilitas yang di berikan yaitu pelatihan manajemen produksi dan operasional, bonus aktif dan pasif, flyer 100 buah, kaos 2 buah, bumbu 10 rasa, franchise fee selama tiga tahun.
Keuntungan menjadi agent :
a. Garansi modal kembali
b. Keutungan besar
c. Mendapat pelatihan mgt produksi dan operasional
d. Berhak menjual oulet ke mitra
Keuntungan bergabung :
a. Return on investmen (ROI)/balik moal cepat
b. Modal tidak terlalu besar
c. Kemungkinan berhasil lebih besar
d. Support dari pusat ok
Untuk informasi lebih jelas silahka hubungi:
PIC : ABU AYYASY : 0815.3750.1719
YAHYA : 0812.769.4582
RESIKO ITU BERARTI REZEKI
Dalam sebuah seminar kewirausahaan di Bandung, entrepreneur sukses Purdi E. Chandra membuat suatu hubungan antara risiko dan rizki (baca: rezeki). Menurut pemilik kelompok usaha Primagama ini, salah satu kunci sukses entrepreneur terletak pada keberanian untuk mengambil risiko. "Kalau berani ambil risiko maka rizki akan datang. Asal mula kara rizki adalah risiko," kata pengusaha yang dikenal suka tampil nyeleneh ini.
Sekilas pernyataan yang disampaikan Purdi ini memang tampak menggelikan. Namun jika kita renungkan lebih jauh memang ada benarnya. Orang-orang yang tidak berani mengambil risiko umumnya tidak berbuat apa-apa yang mereka tidak akan mendapatkan prestasi gemilang. Mereka yang termasuk kelompok ini umumnya berpendidikan sangat baik dan mengetahui segala dampak yang timbul dari setiap tindakan yang diambil. Alhasil, setiap langkah terlihat “menakutkan” dan membuat mereka memilih lebih baik berdiam diri saja. Mereka memilih untuk tetap tinggal di dalam kotak atau zona nyaman (comfort zone) dibandingkan harus melakukan sesuatu yang berisiko.
Saya tidak bermaksud menghujat para cendekiawan ini karena saya sadar negeri ini sangat membutuhkan orang-orang pintar yang punya kepedulian terhadap negeri ini. Namun di sisi lain, kita juga memerlukan orang-orang yang punya keberanian untuk memulai sesuatu yang tidak pasti. Misalnya, ketika terjun berwirausaha, ada kemungkinan untuk untung atau buntung. Tanpa orang-orang seperti ini, bumi pertiwi akan sulit keluar dari krisis dan mencapai masa keemasannya.
Orang-orang yang tidak berani mengambil risiko umumnya selalu memikirkan skenario terburuk. Misalnya, bagaimana kalau nanti gagal? Bagaimana kalau barangnya tidak laku? Bagaimana kalau produk saya nanti ditiru orang? Bagaimana kalau konsumen akhirnya pindah ke produk pesaing? Dan seterusnya. Menurut saya, sesekali memikirkan skenario terburuk ada baiknya karena membuat kita lebih siap. Namun memikirkannya setiap saat hanya akan membuat nyali kita ciut.
Bicara mengenai risiko memang amat menarik. Saya pernah membaca satu artikel yang pada intinya mengatakan sesungguhnya semua hal itu berisiko. Coba simak syair berikut. Tertawa berisiko kelihatan tolol. Menangis berisiko kelihatan cengeng. Mengulurkan tangan kepada orang lain berisiko ikut terlibat. Menunjukkan perasaan berisiko memperlihatkan diri Anda yang sesungguhnya. Memaparkan ide dan impian Anda di depan orang banyak berisiko dicuri. Mencintai berisiko tidak dicintai. Hidup berisiko mati. Berharap berisiko kecewa. Mencoba berisiko gagal.
Ann Landers pernah menulis bahwa risiko tetap harus diambil karena bahaya terbesar dalam kehidupan adalah tidak berani mengambil risiko. "Orang yang tidak berani mengambil risiko tidak melakukan apa pun, tidak punya apa pun dan bukan apa-apa. Mungkin dia menghindari penderitaan dan kesedihan tetapi dia tidak bisa belajar, merasakan, berubah, bertumbuh dan mencintai. Karena dirantai oleh kepastiannya, maka dia adalah budak. Hanya orang yang berani mengambil risiko sajalah yang merdeka!" kata Landers.
Saya pernah mendapatkan satu pelajaran berharga tentang risiko. Menurut Pak Suryadi yang seorang entrepreneur sukses di bidang usaha pakaian dalam wanita, risiko identik dengan spekulasi. Orang yang ingin maju harus berani berspekulasi. Dalam hal tertentu, semakin besar risiko yang kita ambil maka akan semakin besar pula hasil yang bisa kita dapatkan (high risk high gain).
Pertanyaannya sekarang, apa batas tertinggi dari risiko yang harus kita ambil? Jawabannya hanya satu: ambillah risiko yang sesuai dengan batas kemampuan kita. Jangan terlalu dipaksakan. Sayangnya hal inilah yang sering dilupakan orang, terutama ketika akan terjun berwirausaha. Banyak sekali yang ingin usahanya langsung besar atau memulai dengan modal sangat besar yang merupakan utang bank padahal tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola risiko dengan baik. Alhasil, dalam waktu singkat usahanya pun gulung tikar.
Saran saya, jika Anda memulai sesuatu, lakukanlah dari yang kecil karena risikonya pun kecil dan masih bisa diatasi. Jika usaha Anda mulai berkembang, bolehlah melakukan ekspansi sambil terus mengukur kemampuan dan hasil yang didapatkan. Ambillah risiko yang telah diperhitungkan dengan cermat (calculated risk) dan bertindaklah!
Orang-orang yang tidak berani mengambil risiko ibarat mereka yang hanya mampu melihat bunga mawar sebagai bunga berduri. Mereka tidak berani mendekat karena selalu takut tertusuk duri. Sebaliknya mereka yang berani mengambil risiko mampu melihat keindahan mawar di balik durinya yang tajam. Mungkin pada tahap mereka akan tertusuk duri, namun lambat-laun mereka semakin ahli untuk menghindarinya dan semakin dapat menikmati keindahan bunga berduri ini. Anda pilih yang mana? ***(di posting dari purdi e chandra.net)
Sekilas pernyataan yang disampaikan Purdi ini memang tampak menggelikan. Namun jika kita renungkan lebih jauh memang ada benarnya. Orang-orang yang tidak berani mengambil risiko umumnya tidak berbuat apa-apa yang mereka tidak akan mendapatkan prestasi gemilang. Mereka yang termasuk kelompok ini umumnya berpendidikan sangat baik dan mengetahui segala dampak yang timbul dari setiap tindakan yang diambil. Alhasil, setiap langkah terlihat “menakutkan” dan membuat mereka memilih lebih baik berdiam diri saja. Mereka memilih untuk tetap tinggal di dalam kotak atau zona nyaman (comfort zone) dibandingkan harus melakukan sesuatu yang berisiko.
Saya tidak bermaksud menghujat para cendekiawan ini karena saya sadar negeri ini sangat membutuhkan orang-orang pintar yang punya kepedulian terhadap negeri ini. Namun di sisi lain, kita juga memerlukan orang-orang yang punya keberanian untuk memulai sesuatu yang tidak pasti. Misalnya, ketika terjun berwirausaha, ada kemungkinan untuk untung atau buntung. Tanpa orang-orang seperti ini, bumi pertiwi akan sulit keluar dari krisis dan mencapai masa keemasannya.
Orang-orang yang tidak berani mengambil risiko umumnya selalu memikirkan skenario terburuk. Misalnya, bagaimana kalau nanti gagal? Bagaimana kalau barangnya tidak laku? Bagaimana kalau produk saya nanti ditiru orang? Bagaimana kalau konsumen akhirnya pindah ke produk pesaing? Dan seterusnya. Menurut saya, sesekali memikirkan skenario terburuk ada baiknya karena membuat kita lebih siap. Namun memikirkannya setiap saat hanya akan membuat nyali kita ciut.
Bicara mengenai risiko memang amat menarik. Saya pernah membaca satu artikel yang pada intinya mengatakan sesungguhnya semua hal itu berisiko. Coba simak syair berikut. Tertawa berisiko kelihatan tolol. Menangis berisiko kelihatan cengeng. Mengulurkan tangan kepada orang lain berisiko ikut terlibat. Menunjukkan perasaan berisiko memperlihatkan diri Anda yang sesungguhnya. Memaparkan ide dan impian Anda di depan orang banyak berisiko dicuri. Mencintai berisiko tidak dicintai. Hidup berisiko mati. Berharap berisiko kecewa. Mencoba berisiko gagal.
Ann Landers pernah menulis bahwa risiko tetap harus diambil karena bahaya terbesar dalam kehidupan adalah tidak berani mengambil risiko. "Orang yang tidak berani mengambil risiko tidak melakukan apa pun, tidak punya apa pun dan bukan apa-apa. Mungkin dia menghindari penderitaan dan kesedihan tetapi dia tidak bisa belajar, merasakan, berubah, bertumbuh dan mencintai. Karena dirantai oleh kepastiannya, maka dia adalah budak. Hanya orang yang berani mengambil risiko sajalah yang merdeka!" kata Landers.
Saya pernah mendapatkan satu pelajaran berharga tentang risiko. Menurut Pak Suryadi yang seorang entrepreneur sukses di bidang usaha pakaian dalam wanita, risiko identik dengan spekulasi. Orang yang ingin maju harus berani berspekulasi. Dalam hal tertentu, semakin besar risiko yang kita ambil maka akan semakin besar pula hasil yang bisa kita dapatkan (high risk high gain).
Pertanyaannya sekarang, apa batas tertinggi dari risiko yang harus kita ambil? Jawabannya hanya satu: ambillah risiko yang sesuai dengan batas kemampuan kita. Jangan terlalu dipaksakan. Sayangnya hal inilah yang sering dilupakan orang, terutama ketika akan terjun berwirausaha. Banyak sekali yang ingin usahanya langsung besar atau memulai dengan modal sangat besar yang merupakan utang bank padahal tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola risiko dengan baik. Alhasil, dalam waktu singkat usahanya pun gulung tikar.
Saran saya, jika Anda memulai sesuatu, lakukanlah dari yang kecil karena risikonya pun kecil dan masih bisa diatasi. Jika usaha Anda mulai berkembang, bolehlah melakukan ekspansi sambil terus mengukur kemampuan dan hasil yang didapatkan. Ambillah risiko yang telah diperhitungkan dengan cermat (calculated risk) dan bertindaklah!
Orang-orang yang tidak berani mengambil risiko ibarat mereka yang hanya mampu melihat bunga mawar sebagai bunga berduri. Mereka tidak berani mendekat karena selalu takut tertusuk duri. Sebaliknya mereka yang berani mengambil risiko mampu melihat keindahan mawar di balik durinya yang tajam. Mungkin pada tahap mereka akan tertusuk duri, namun lambat-laun mereka semakin ahli untuk menghindarinya dan semakin dapat menikmati keindahan bunga berduri ini. Anda pilih yang mana? ***(di posting dari purdi e chandra.net)
Kamis, 08 Mei 2008
SALAM SUKSES
Assalamu'alaikum wr. wb
Sukses itu bukan hanya miliknya orang kaya, suskes itu bukan hanya miliknya pejabat, sukses itu bukan hanya miliknya orang kota, Sukses itu milik semua orang, begitu kata Andri Wongso. Lalu bagaimana kita bisa meraih sukses tersebut. Sukses ada banyak caranya dan juga sukses itu bermacam-macam. Kita harus memutuskan untuk sukses di bidang apa ? karena suskes itu banyak jenisnya. Jika kita sudah memilih apa yang akan kita capai, maka berfokuslah terhadap apa yang akan kita capai dan sebelum anda mecapai apa yang ingin anda dapatnya maka berfikirlah seolah-oleh anda sudah berhasil meraih yang anda inginkan.
Dalam hukum tarik menarik yang di jelaskan dalam buku the secret, di nyatakan bahwa apa yang kita pikirkan hari ini pasti suatu saat nanti akan kembali kepada kita.Maka jika kita berpikir negatif, maka itu kan kembali kepada kita, tapi jika kita berpikir positif maka itupun akan kembali kepda kita.
Dalam agama kita(Islam), juga sudah dijelaskan bahwa Allah SWT mengatakan Aku ini seperti yang hambuku prasangkakan. Jika kita berprasangka buruk pasti Allah SWT akan memberikan yang buruk pada kita seperti apa yang kita prasangkakan. Maka mulai saat ini marilah kita menata kembali cara berpikir kita menjadi pola berpikir yang positif.
Sukses itu bukan hanya miliknya orang kaya, suskes itu bukan hanya miliknya pejabat, sukses itu bukan hanya miliknya orang kota, Sukses itu milik semua orang, begitu kata Andri Wongso. Lalu bagaimana kita bisa meraih sukses tersebut. Sukses ada banyak caranya dan juga sukses itu bermacam-macam. Kita harus memutuskan untuk sukses di bidang apa ? karena suskes itu banyak jenisnya. Jika kita sudah memilih apa yang akan kita capai, maka berfokuslah terhadap apa yang akan kita capai dan sebelum anda mecapai apa yang ingin anda dapatnya maka berfikirlah seolah-oleh anda sudah berhasil meraih yang anda inginkan.
Dalam hukum tarik menarik yang di jelaskan dalam buku the secret, di nyatakan bahwa apa yang kita pikirkan hari ini pasti suatu saat nanti akan kembali kepada kita.Maka jika kita berpikir negatif, maka itu kan kembali kepada kita, tapi jika kita berpikir positif maka itupun akan kembali kepda kita.
Dalam agama kita(Islam), juga sudah dijelaskan bahwa Allah SWT mengatakan Aku ini seperti yang hambuku prasangkakan. Jika kita berprasangka buruk pasti Allah SWT akan memberikan yang buruk pada kita seperti apa yang kita prasangkakan. Maka mulai saat ini marilah kita menata kembali cara berpikir kita menjadi pola berpikir yang positif.
Langganan:
Postingan (Atom)